Ternate Kian Modern, Ketua MSI Malut: Jangan Tulis Ulang Sejarah dengan Spidol Beton
TERNATE, MALUTEXPRESS.COM – Kota Ternate terus bersolek. Tiang pancang ditancap, jalanan diperlebar, dan pusat ekonomi baru terus bermunculan.
Namun, di balik laju modernisasi yang masif ini, sebuah peringatan keras datang dari kalangan sejarawan: Jangan sampai Ternate menjadi kota yang amnesia.
Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Maluku Utara, Syahril Muhammad, saat RDP Rabu (20/05) di Kantor DPRD Kota Ternate, mengingatkan bahwa Ternate bukanlah kota biasa. Ternate adalah salah satu pusat peradaban rempah dunia—tempat bertemunya berbagai bangsa besar di masa lalu.
”Kota tanpa sejarah ibarat manusia tanpa ingatan. Ia bisa berjalan, tapi tidak tahu dari mana datang dan hendak ke mana,” ujar Syahril.
Lampu Kuning untuk Warisan Budaya
Syahril menyoroti kondisi hari ini di mana jejak-jejak sejarah Ternate kian terancam. Bukan karena perang, melainkan karena pembangunan yang kerap abai terhadap masa lalu. Situs-situs bersejarah perlahan bergeser menjadi ruko, kawasan cagar budaya menyempit demi lahan parkir, dan ruang publik adat berubah menjadi area komersial.
Namun, Syahril menegaskan bahwa sejarawan sama sekali tidak anti-pembangunan. Ekonomi memang harus bergerak dan lapangan kerja harus diciptakan. Hanya saja, kemajuan sejati seharusnya tidak mencabut akar budaya kota itu sendiri.
3 Solusi Membangun Ternate Tanpa Menggusur Sejarah
Dalam momentum penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Ternate 2026-2046, MSI Maluku Utara menawarkan tiga langkah strategis agar Ternate tumbuh menjadi kota modern yang tetap punya “wajah”:
1. Kunci Zona Sejarah di RTRW (Batasi dengan Tegas)
Kawasan cagar budaya, situs sejarah, dan ruang adat harus dikunci dalam dokumen tata ruang sebagai zona perlindungan mutlak yang tidak boleh diganggu gugat. Peta sejarah kota harus memiliki kekuatan hukum yang sama kuatnya dengan peta investasi.
2. Sejarah Bukan Beban, Tapi Modal Wisata
Benteng Oranje, Benteng Tolukko, Istana Kesultanan, hingga kampung-kampung tua adalah aset mahal. Syahril mencontohkan kota dunia seperti Kyoto di Jepang atau Yogyakarta yang maju justru karena merawat sejarahnya. Wisatawan datang ke Ternate bukan untuk melihat mal, melainkan untuk merasakan napas Kesultanan.
3. Libatkan Masyarakat Adat dan Sejarawan Sejak Awal
Pemerintah diminta membuka ruang musyawarah sejak tahap perencanaan, bukan baru melakukan sosialisasi saat proyek sudah berjalan. Mengingat RTRW ini berlaku untuk 20 tahun ke depan, salah menggambar garis hari ini akan membawa penyesalan di masa depan.
Kota yang Hebat adalah Kota yang Ingat
Ternate memiliki peluang besar untuk menjadi kota pelabuhan modern yang ramah investasi sekaligus ramah sejarah. Sebuah kota di mana generasi mudanya bisa menikmati fasilitas modern, namun tetap sadar bahwa tanah yang mereka pijak adalah tempat lahirnya peradaban besar.
”Sejarah tidak meminta kita berhenti membangun. Sejarah hanya meminta satu hal: jangan hapus kami saat kau menggambar masa depan. Karena kota yang hebat bukan kota yang paling tinggi gedungnya, tapi kota yang paling dalam ingatannya,” tutup Syahril. (Ello)

Tinggalkan Balasan