TERNATE, MALUTEXPRESS.COM – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. H. Chasan Boesoirie Ternate bergerak cepat merespons peningkatan signifikan jumlah pasien belakangan ini. Langkah strategis langsung diambil dalam apel pagi yang dipimpin oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur RSUD, dr. Rosita Alkatiri, M.Kes, Senin (8/6/2026).

Demi memastikan pelayanan kesehatan tetap stabil, aman, dan mudah diakses oleh masyarakat Maluku Utara, manajemen rumah sakit milik Pemprov Malut ini resmi menyusun sejumlah formula baru.

Urai Kepadatan IGD: Waktu Transit Maksimal 4 Jam

Salah satu titik krusial yang menjadi perhatian utama manajemen adalah Instalasi Gawat Darurat (IGD). Sebagai pintu utama penanganan darurat, IGD kerap mengalami penumpukan pasien akibat antrean ruang rawat inap.

Menyikapi hal ini, dr. Rosita menegaskan kebijakan baru yang berorientasi pada kenyamanan pasien melalui sistem kamar terbuka. Lewat sistem ini, semua ruangan rawat inap kini diwajibkan menerima pasien secara fleksibel tanpa memandang sekat spesialisasi bidang medis.

Catatan Pengecualian: Fleksibilitas ruang rawat inap ini tidak berlaku untuk ruangan yang membutuhkan penanganan khusus demi keamanan medis, seperti ruang penyakit infeksius, ruang anak, dan ruang ibu hamil.

Tak hanya itu, manajemen juga menetapkan target waktu tunggu (transit) pasien di IGD yang sangat ketat. Pasien maksimal hanya boleh berada di IGD selama 4 jam sebelum harus segera dipindahkan ke ruang perawatan.

Tingkatkan Kompetensi Nakes dan Perluasan Gedung

Tidak hanya membenahi alur sirkulasi pasien, RSUD Chasan Boesoirie juga fokus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Saat ini, sebanyak 70 tenaga kesehatan (nakes) telah dibekali pelatihan perawatan luka modern, dan program ini akan segera dilanjutkan ke gelombang kedua.

Rencana jangka panjang untuk kenyamanan infrastruktur juga sudah di depan mata. Mulai akhir Juli atau awal Agustus 2026, pihak rumah sakit dijadwalkan akan memperluas area IGD.

Selain perluasan IGD, renovasi besar-besaran juga akan dilakukan pada gedung lantai 4 hingga lantai 6 untuk dialihfungsikan sebagai ruang pembelajaran terpadu.

Komitmen Keselamatan dan Terapi Psikologis Budaya 5S

Di akhir arahannya, dr. Rosita Alkatiri mengingatkan seluruh jajaran pegawai—mulai dari tenaga medis hingga staf administrasi—untuk selalu menempatkan keselamatan pasien (patient safety) sebagai prioritas tertinggi. Pihak manajemen juga meminta seluruh nakes untuk konsisten menerapkan budaya 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun).

“Kerja sama dan kolaborasi seluruh lini adalah kunci. Kita ingin memastikan bahwa di tengah lonjakan pasien sekalipun, masyarakat tetap mendapatkan pelayanan yang cepat, ramah, dan berkualitas,” ujar dr. Rosita optimis.

Ia menambahkan bahwa pelayanan kesehatan yang prima tidak melulu soal obat dan tindakan medis, tetapi juga menyangkut kenyamanan psikologis.

“Budaya 5S yang diterapkan RSUD Chasan Boesoirie terbukti secara ilmiah dapat menurunkan tingkat stres pasien, membangun rasa percaya (trust), dan membantu mempercepat proses penyembuhan melalui lingkungan yang positif,” pungkasnya.

Editor: Ello Reporter: Yanti