TERNATE, MALUTEXPRESS.COM – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Ternate mendesak manajemen PT PLN (Persero) Cabang Ternate untuk bergerak cepat memperbaiki kerusakan mesin pembangkit listrik di PLN Ranting Pulau Batang Dua. Pasalnya, gangguan teknis tersebut telah menyebabkan warga setempat hidup dalam kegelapan selama hampir satu bulan terakhir.

Desakan keras tersebut disuarakan oleh Wakil Ketua I DPRD Ternate Amin Subuh dan anggota DPRD Tasman Balak seusai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) gabungan Komisi I dan Komisi II bersama Manajer PLN Cabang Ternate serta Camat Pulau Batang Dua di Gedung DPRD Ternate.

“Sudah satu bulan listrik padam total di Pulau Batang Dua. Ini mengakibatkan warga kita di sana sangat kesulitan. Kami mendesak PLN secepatnya membenahi mesin agar pasokan listrik kembali normal,” ujar Tasman Balak di Ternate.

Hambat Pelayanan Puskesmas dan Roda Ekonomi

Tasman menegaskan, keberadaan energi listrik saat ini bukan lagi sekadar pelengkap gaya hidup, melainkan kebutuhan dasar masyarakat (basic needs). Pemadaman berkepanjangan ini berdampak langsung pada pelayanan vital di Puskesmas hingga kelumpuhan ekonomi warga lokal.

Legislator dari daerah pemilihan (Dapil) III yang meliputi Pulau Ternate, Hiri, dan Batang Dua ini meminta PLN tidak membiarkan pemadaman berlarut-larut tanpa penanganan konkret.

Ia juga menyentil aspek maintenance komponen mesin yang memicu rusaknya empat unit mesin pembangkit akibat tingginya kadar garam (korosi), mengingat lokasi bangunan PLN Ranting Batang Dua yang ada saat ini berdiri sangat dekat dengan bibir pantai.

“Kami meminta PLN Cabang Ternate tidak hanya memperbaiki mesin yang rusak, tetapi juga memperjelas jadwal pemadaman kepada warga agar peralatan elektronik milik masyarakat tidak rusak,” tambah politisi Partai Gerindra tersebut.

Lemahnya Perawatan dan Urgensi Relokasi Gedung

Di kesempatan yang sama, Wakil Ketua I DPRD Ternate, Amin Subuh, menyoroti dua akar masalah utama penyebab krisis listrik di Batang Dua. Pertama, terkait lemahnya pemeliharaan rutin (maintenance) mesin cadangan, di mana dari tiga unit mesin pembangkit yang disiapkan, seluruhnya kini dalam kondisi rusak (off).

“Kerusakan pertama diakibatkan korosi karena lokasinya di pantai dengan zat garam tinggi. Namun kalau sampai dua atau tiga mesin yang dicadangkan semuanya mati, berarti masalah utamanya ada pada pemeliharaan. Jika padam berlarut-larut sampai sebulan, tentu sebagai wakil rakyat kami tidak bisa tinggal diam,” tegas Amin.

Masalah kedua adalah urgensi relokasi gedung kantor PLN Ranting Batang Dua. Amin mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota Ternate sejatinya telah menyediakan lahan baru yang lebih aman dari terpaan korosi air laut sejak beberapa tahun lalu, namun pihak PLN belum merealisasikan pembangunannya dengan alasan efisiensi anggaran.

Atas kendala tersebut, politisi Partai Golkar ini menyarankan agar Wali Kota Ternate bersama Camat Batang Dua melayangkan surat resmi secara berjenjang kepada Divisi Pembangunan Gedung PT PLN di pusat.

“Kami menyarankan Pemkot dan Camat bersurat resmi ke Divisi Pembangunan PLN pusat agar pembangunan gedung kantor PLN Ranting Batang Dua yang baru di lokasi aman dapat segera direalisasikan,” pungkas Amin. (me/red)