Tekan Angka Rujukan, RSUD Chasan Boesoirie Resmikan Gedung Pelayanan Jantung
ERNATE, MALUTEXPRESS.COM – Akses masyarakat Maluku Utara terhadap penanganan penyakit kardiovaskular memasuki babak baru. Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, meresmikan langsung Gedung Pelayanan Jantung Terpadu di RSUD dr. H. Chasan Boesoirie Ternate, Jumat (28/8/2026).
Fasilitas modern ini dihadirkan untuk memperkuat penanganan medis darurat sehingga masyarakat setempat tak lagi harus dirujuk ke luar daerah.
Peresmian gedung ini dirangkaikan dengan pelaksanaan Proctorship Intervensi Non-Bedah (INB) perdana serta penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Multipartit Jejaring Pengampuan Pelayanan Jantung dan Pembuluh Darah.
Dalam sambutannya, Gubernur Sherly Tjoanda menegaskan bahwa keberadaan gedung ini adalah wujud nyata kehadiran negara dalam menyediakan pelayanan kesehatan yang merata. Menurutnya, faktor waktu merupakan variabel krusial dalam menyelamatkan pasien penyakit jantung.
“Ini tentang kecepatan. Keterlambatan sangat berpengaruh pada kondisi pasien. Negara hadir memastikan pelayanan merata, sehingga pasien darurat dapat tertangani dengan tepat di daerahnya sendiri,” tegas Sherly.
Selain kesiapan fisik gedung, Gubernur menyoroti pentingnya penguatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan. Ia mengapresiasi transformasi RSUD Chasan Boesoirie yang terus membaik, mulai dari pengelolaan logistik obat hingga kebersihan.
“Rumah sakit bukan hanya soal gedung, tapi kapasitas. Saya berharap PKS ini menjadi awal pembinaan terstruktur bagi dokter muda di Maluku Utara agar kompetensi mereka terus meningkat,” tambahnya.
Jawab Tantangan Geografis dan Lonjakan Pasien
Direktur RSUD dr. H. Chasan Boesoirie, dr. Rosita Alkatiri, M.Kes., mengungkapkan bahwa pembangunan pusat layanan jantung ini dirancang untuk menjawab tantangan geografis wilayah kepulauan Maluku Utara. Tren kasus jantung di daerah ini tercatat melonjak signifikan sepanjang periode 2020–2025.
Data RSUD menunjukkan pasien rawat jalan penyakit jantung melonjak dari 439 menjadi 820 kasus, sementara pasien rawat inap naik pesat dari 291 menjadi 580 kasus.
“Kebutuhan masyarakat terus tumbuh. Pengembangan fasilitas harus dibarengi peningkatan kompetensi SDM, teknologi, dan jejaring rujukan yang kuat,” terang dr. Rosita.
Melalui operasional gedung baru ini, RSUD Chasan Boesoirie kini mengaktifkan fasilitas Cath Lab untuk prosedur diagnostik dan intervensi medis, serta bertahap mempersiapkan layanan Bedah Jantung Terbuka.
Pengembangan ini disokong jejaring pengampuan nasional hingga tahun 2031. Kemitraan strategis tersebut melibatkan RS Jantung Harapan Kita sebagai koordinator nasional, RSUD Dr. Soetomo Surabaya untuk pengampuan bedah jantung, serta RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta untuk intervensi non-bedah.
Direktur Utama RS Jantung Harapan Kita, Dr. dr. Iwan Dakota, SpJP(K), M.A.R.S., menyampaikan bahwa sinergi ini berfokus mendampingi rumah sakit daerah hingga mampu melayani masyarakat secara mandiri dengan standar nasional. Agenda peresmian ini turut dihadiri Direktur Layanan Operasional RSCM Dr. dr. Astuti Giantini dan Kabid Pelayanan Medik RSUD Dr. Soetomo Dr. Mouli Edward.
Usai seremonial, Gubernur Sherly Tjoanda bersama Wakil Gubernur, Sekda Provinsi, Dubes Kerajaan Belanda, serta tim ahli nasional meninjau (door-stop) langsung area kateterisasi (Cath Lab) dan ruang operasi guna memastikan kesiapan sterilitas serta sarana pendukung sebelum dioperasikan penuh. (me/red)

Tinggalkan Balasan