Pemprov Malut Gandeng Kemendikdasmen, Bersihkan Data Agar Pendidikan Lebih Baik
Malutexpress – Gubernur Maluku Utara Sherly Tjianda Laos menegaskan masih ada puluhan ribu anak usia sekolah di Maluku Utara yang belum mengenyam bangku pendidikan.
Lebih parah lagi, Menurut Gubernur puluhan ribu data siswa masih belum valid. Kondisi ini membuat penyaluran bantuan rawan salah sasaran, sekolah sulit berkembang, dan mutu pelayanan pendidikan di Maluku Utara tertahan di level rendah.
Hal ini disampaikan saat Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda Laos menandatangani Nota Kesepakatan dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Rabu 1 Oktober di Jakarta.
Tujuan kerja sama ini berfokus pada pemutakhiran Data Pokok Pendidikan (Dapodik) agar data pendidikan di Malut lebih akurat, bersih, dan bisa dimanfaatkan secara tepat.
“Kami berkomitmen membersihkan seluruh data residu, menghadirkan Rapor Sekolah digital, dan memastikan mutu sekolah bisa dipantau real-time. Dengan Dapodik, kita bisa tahu sekolah mana yang jauh dari standar, lalu kita intervensi dengan rehab, distribusi guru, dan beasiswa,” kata Gubernur Sherly.
Gubernur Sherly menegaskan ada tiga alasan utama kenapa pemutakhiran Dapodik ini jadi prioritas yaitu pertama, Bantuan BOS & beasiswa lebih tepat sasaran. Kedua, Distribusi guru dan pembangunan sekolah lebih terarah. Dan peningkatan Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan.
Saat ini, SPM pendidikan Malut masih berada di angka 48. Dengan basis data yang lebih valid, Pemprov optimistis angka tersebut bisa naik mendekati rata-rata nasional di kisaran 70-an.
Selain pembenahan data, Pemprov juga mendorong akses pendidikan di wilayah kepulauan lewat program SMA Terbuka dan Rumah Pendidikan.
Kedua program ini diharapkan menjangkau anak-anak yang tinggal di daerah terpencil agar tidak tertinggal dalam memperoleh pendidikan.
Gubernur Sherly menegaskan, pembersihan data bukan sekadar urusan administrasi, tetapi langkah nyata memastikan masa depan anak-anak Maluku Utara.
“Tidak boleh ada lagi anak Malut yang tertinggal hanya karena data kita tidak valid. Dengan data yang bersih, setiap anak punya kesempatan yang sama untuk belajar dan bermimpi,” ujarnya. (***)

Tinggalkan Balasan